Blog Image

Blog

Berprasangka Positif Bisa jadi Toxic?

September 22, 2020

Indonesia memasuki masa PSBB kedua. Banyak banget yang pro dan kontra terhadap keputusan ini. Ada yang bilang udah terlambat, ada yang bilang ini penting karena tenaga kesehatan di Indonesia udah banyak yang berguguran. Nggak ada opini yang benar atau salah, karena semua orang pasti punya pertimbangannya masing-masing. Tapi dari sini, kami merasakan banyak banget ketidak pastian. Kamu merasakan hal yang sama nggak?

 

Di waktu-waktu seperti ini mungkin kamu juga merasa down dan nggak termotivasi karena banyak yang nggak pasti--mungkin ada yang harus diberhentikan dari pekerjaan, usahanya menurun, ada yang hari bahagianya harus diundur atau bahkan dibatalkan. Di saat seperti ini, rasanya lebih sulit melihat dunia dari sisi baiknya. 

 

 

Ada banyak yang merasakan hal yang sama, sehingga banyak juga orang-orang baik yang terus berusaha menyemangati walaupun terhalang jarak. Kalau kita lihat di sosial media, banyak yang mengajak orang lain untuk tetap berpikir positif dan berperilaku positif saat dunia sedang kejam-kejamnya. Di satu sisi, kami setuju dengan ajakan untuk berpikir positif karena mindset yang positif bisa menjadi pendorong kita untuk terus berusaha menjalankan yang terbaik. Tapi di sisi lain, kami khawatir ajakan untuk berpikiran positif malah menjadi tekanan. 

 

Peek.Me Friends mungkin udah pernah mendengar kata-kata toxic positivity (ucapan-ucapan positif yang harapannya untuk menyemangati tapi malah menjadi beban untuk orang lain bahkan jadi mengecilkan kondisi orang lain). Awalnya memang menyemangati orang lain dengan kata-kata positif adalah hal yang baik. Tapi, semua yang berlebihan tidak akan menjadi baik. Apalagi di tengah pandemi seperti ini, saat bukan cuma orang yang terserang virus aja yang terdampak. 





Apa aja kata-kata toxic positivity yang harus kita hindari?

 

Biasanya kata-kata yang sering menjadi beban itu kata-kata yang ekstrim atau terlalu general. Rasanya kayak terlalu quote ala-ala Pinterest dan nggak mungkin bisa dilakukan saat orang lagi down. 

 

“Be happy wherever you are!”

“Kamu akan melewati masalah apapun”

“Pikirin saja hal-hal yang positif!”

 

Nggak ada yang salah dengan kalimat-kalimat di atas waktu kita butuh penyemangat harian. Tapi kalau lagi pusing karena kehilangan pekerjaan akibat COVID-19 dan mendapat kalimat itu, tentu saja kita akan sulit memikirkan hal-hal positif saja. 

 

Mungkin sekarang rasanya jadi serba salah. Mau nyemangatin, takut malah jadi beban untuk orang lain. Mau diem aja, malah terkesan nggak peduli. Kami harap kita semua tetap mau menyemangati orang lain dengan mantra-mantra positif tanpa membuat orang lain merasa terganggu. Gimana caranya?






Gimana caranya menghindari toxic positivity?

 

  1. Jangan pikirkan kata-kata yang bagus aja, tapi pikirkan dulu perasaannya

Menurut kami, dalam menyemangati orang lain, hal yang pertama kita perhatikan bukan kata-kata positifnya, tapi memvalidasi perasaan orang itu. Saat kita berusaha menempatkan diri di posisi orang yang kehilangan pekerjaan, mungkin kita juga akan merasa kebingungan. Tapi kita nggak perlu menggantikan posisi orang itu dan mencari solusinya. Cukup bilang,“Aku ngerti. kondisinya buruk banget buat kamu?” 

 

  1. Dukungan yang berempati lebih baik

Hal berikutnya yang nggak kalah penting adalah meyakinkan orang itu kalau kita ada untuknya. Bukan berarti kita harus mencarikan solusi ya. Sampaikan kalau kita siap mendengar ceritanya, atau kita bisa berusaha menghibur, atau kita bisa diajak berdiskusi untuk bersama-sama mencari solusi. Saat berada dalam kesulitan, semuanya terasa makin berat kalau sendirian. Punya teman untuk mendengarkan cerita saja rasanya udah sangat membantu.



Menurut kami, berempati adalah kunci yang penting saat kita berusaha menyemangati orang lain. Nggak cuma memahami masalah yang dia hadapi, tapi melihat dunia dari sisi dan sudut pandang dia. Saat kalut, banyak hal terasa jadi lebih berat bahkan nggak mungkin dilakukan. Peran kita adalah meyakinkan bahwa dia nggak sendiri. Dunia mungkin kejam, tapi dia nggak akan sendirian. Mungkin kamu merasa nggak bisa merangkai kata kata yang bagus, tapi itu nggak penting, karena kami yakin kata-kata dari hati bisa lebih menenangkan. 

 

Kami harap, bagaimanapun kondisinya saat ini kita tetap berusaha saling mendukung dan ada untuk orang-orang di sekitar kita ya, Peek.Me Friends!