Blog Image

Blog

Berdamai dengan "Cuaca" di Dalam Dirimu

October 9, 2020

Peek.Me Friends, ada yang lagi kesulitan untuk merasa baik-baik aja nggak sekarang?

Aneh ga pertanyaannya? Kok, “baik-baik aja” susah untuk dirasain?

Mark Manson di dalam bukunya yang berjudul Everything is F*cked bilang kalau kita sering secara nggak sadar berusaha menyingkirkan “emosi” yang kita rasakan (baik emosi yg positif maupun negatif); karena kita pikir emosi menghalangi kita dari mengambil keputusan yang logis. Ada yang merasakan hal yang sama nggak?

Padahal nyatanya, kebanyakan keputusan yang kita ambil sehari-hari itu karena ada dorongan dari emosi. Kalau lagi senang, kerjanya lebih fokus. Kalau lagi bete, jadi lebih jutek waktu ngobrol sama orang lain. Mungkin kita nggak sadar, tapi otak mengambil keputusan dengan ada dorongan emosi di belakangnya. 


Mungkin akan muncul pertanyaan di dalam diri “emang bener ya keputusan yang aku ambil dari emosi aja?” dan baiknya harus gimana? Apa yang harus kita lakukan tentang emosi-emosi yang kita rasain dan apa yang harus dilakukan supaya kita bisa bereaksi yang paling baik?



Kamu adalah keputusan yang kamu ambil, bukan emosi yang kamu rasakan

Peek.Me Friends pernah nggak denger quote:

Aku baru sadar sekarang, kalau quote yang kesannya biasa ini ternyata nyambung dengan peran emosi dalam pengambilan keputusan seseorang. Kita sering tanpa sadar tenggelam dalam suatu perasaan dan mengambil keputusan berdasarkan perasaan itu. Padahal, emosi yang kita rasakan sifatnya sementara. Jadi sebenarnya, apa yang kita lakukan nggak boleh karena hanya didorong oleh emosi yang cuma “numpang lewat”. Misalnya, kalau kita melakukan sesuatu karena emosi negatif yang besar, bisa bisa waktu emosinya mereda, kita menyesali hal yang kita lakukan. 



Kenali, bukan Abaikan

Nggak mau tenggelam dalam emosi yang kita rasakan bukan berarti kita harus cepat-cepat mengusir emosi yang muncul. Kembali lagi, tiap emosi yang muncul mengajarkan kita satu dua hal yang lebih dalam tentang diri kita sendiri, dan gimana kita menghadapinya. 

Jason Linder, ahli mindfulness di California School of Professional Psychology menggunakan metafora yang bagus banget untuk mengaitkan emosi atau mood kita dengan cuaca

Cuaca di sekitar kita kadang panas terik, kadang hujan deras, kadang berkabut, tapi setiap fase cuaca akan berganti, dan cuaca panas terik, hujan, berkabut bukan berarti cuaca itu buruk atau baik. Sehari-hari, emosi yang kita rasakan akan berlalu dan berganti dengan emosi lain. Nggak ada emosi yang negatif atau positif sampai kita melakukan sesuatu dari emosi itu. 

Kita nggak bisa mengontrol kapan akan cerah, kapan hujan deras, sama kaya kita nggak bisa mengontrol kapan emosi tertentu akan muncul. Yang bisa kita kontrol adalah apa yang bisa kita siapkan waktu tanda-tanda cuaca akan muncul. Sama persis seperti emosi atau mood, kita bisa menyiapkan diri tentang apa yang harus dilakukan saat emosi itu muncul. Kita bisa memilih “hujan-hujanan” saat hati lagi hujan deras, atau kita bisa memilih untuk “menggunakan payung” atau sesimple “menyingkir dari hujan”. Apakah kita mau menangis dan terpuruk, atau kita mau menangis sambil curhat dan lalu lega, atau kita menyadari kesedihan itu sementara jadi kita menunggu hari yang lebih baik datang?



Mundur untuk refleksi diri

Waktu merasakan akan ada emosi, terutama emosi negatif yang muncul, penting untuk bisa fokus sebentar dan menyadari sensasi apa yang muncul di dalam tubuh. Selain itu, penting juga untuk percaya bahwa perasaan ini akan lewat. Mungkin nggak semudah menyampaikannya, tapi dengan pelan-pelan membiasakan diri, apa yang kita lakukan bisa lebih nggak terpengaruh dengan emosi itu. 

Dr. Tara Branch membuat teknik mindfulness yang sejalan dengan metafora cuaca yang namanya RAIN:

  1. Recognize: Kenali tanda-tanda yang muncul sesaat sebelum emosi muncul dan kenali apa yang dirasakan saat merasakan emosi itu. 

  2. Accept: Terima hal-hal yang terjadi di dalam tubuh saat merasakan emosi, dan nggak mencoba untuk langsung mengubahnya. 

  3. Investigate: Cari tau apa hal yang menjadi trigger munculnya emosi ini, supaya kita bisa lebih mempersiapkan diri untuk ke depannya.

  4. Non-Identify: Sadari bahwa emosi ini hanya lewat sementara, dan nggak membentuk diri kita. Sadari bahwa perasaan ini muncul untuk mengajarkan kita lebih banyak tentang diri kita sendiri, dan keputusan yang kita ambil sepenuhnya ada di tangan kita tanpa harus ada pengaruh dari perasaan yang muncul.




Emosi adalah hal yang baik di kehidupan kita. Dengan merasakan sesuatu tentang dunia, kita juga sedang mewarnai kehidupan kita. Lebih sadar tentang emosi yang kita rasakan bisa membantu kita melihat dunia dengan warna yang lebih indah.