Blog Image

Blog

Minyak Atsiri Indonesia: Peluang Kompetitor Indonesia untuk Dunia

December 7, 2020

Kalau membicarakan kekayaan alam Indonesia, pasti nggak akan ada habisnya. Gimana tidak, Indonesia punya 88 pulau dengan karakteristik alam yang beragam menjadi rumah untuk berbagai flora dan fauna. Indonesia terkenal sebagai salah satu penghasil rempah-rempah terbesar di dunia. Dengan kekayaan tanaman Indonesia, sebenarnya kita masih punya peluang yang sangat besar untuk berkembang di ranah internasional. Sayangnya, pemanfaatan tanaman Indonesia untuk kesehatan dan kecantikan, seperti jamu, dupa, boreh, dan lain-lain belum akrab di nusantara dan internasional. 

Salah satu hal yang menjadi penyebabnya adalah riset tentang pemanfaatan tanaman aromatik yang masih sedikit, sehingga peminatan dari Industri belum banyak. Petani pun lebih memilih untuk memproses tanaman dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi, seperti cengkeh, nilam, dan sereh wangi. 

Mengetahui hal itu, kami ingin memperluas pengetahuan kita semua tentang kekayaan tanaman aromatik Indonesia. Kami mengundang seorang penggiat, peneliti, dan penyuling tanaman aromatik di Indonesia, Martsiano, atau yang lebih akrab dipanggil Mas Ano. 

Cerita Martsiano, Penggiat, Peneliti, Sekaligus Penyuling Tanaman Aromatik Indonesia

Mas Ano dan rekan-rekannya mulai menggiati penyulingan tanaman-tanaman aromatik untuk mendapatkan minyak atsiri sejak tahun 2005, saat masih menjalani pendidikan di UII. Ternyata hobi ini terus berkembang sampai hari ini, Mas Ano dan rekan-rekannya sudah melakukan penyulingan tanaman aromatik di berbagai daerah di Indonesia, seperti Pandeglang, Ciamis, Jogja, sampai Sulawesi. 

Mas Ano menyampaikan bahwa komoditas tanaman aromatik terbesar saat ini adalah nilam (patchouli), cengkeh, sereh wangi (lemongrass), dan pala, yang kebanyakan disuling di Pandeglang dan Sulawesi. Sedangkan, tanaman yang disuling dalam jumlah yang sedikit dilakukan di Jogja, seperti empon-empon dan bunga sedap malam.

 

Penjualan Tanaman Aromatik Indonesia

Mas Ano bercerita bahwa di tahun 2015, kebanyakan penjualan hasil sulingan tanaman aromatik adalah untuk pembeli curah dalam jumlah yang kecil dan minyak atsiri yang dijual beragam. Mulai tahun 2016, lebih banyak penjualan dilakukan untuk pabrik dengan jumlah yang jauh lebih banyak, tapi dengan jenis minyak yang lebih sedikit. 

Budidaya Tanaman Aromatik Indonesia di Masa Depan

Dengan kekayaan sumber daya alam Indonesia, Mas Ano melihat peluang yang sangat besar untuk pembudidayaan ratusan tanaman aromatik selain 4 komoditas terbesar yang sekarang populer. Masih banyak sekali tanaman aromatik Indonesia yang bisa dieksplor, seperti Bungong Jeumpa dari Sumatera, Melu dari Aceh, atau Andaliman. Tidak cuma bunga, tapi buah, akar, dan rempah juga masih menunggu untuk didalami. 

Dengan bertambahnya komoditas yang dibudidaya, para petani dan penyuling tanaman Indonesia juga memiliki peluang untuk meningkatkan daya jual tidak hanya dari 4 komoditas besar saja. 

Bertukar cerita dengan Mas Ano membuat kami juga menyadari bahwa sektor pertanian di Indonesia punya ruang gerak yang besar untuk berkembang. Kita juga punya peran yang besar untuk mencapai perkembangan ini, yaitu dengan membuka pengetahuan kita tentang tanaman aromatik Indonesia. Ketertarikan kita bisa mengawali naiknya peminatan perusahaan-perusahaan untuk membeli bahan baku dari petani tanaman aromatik Indonesia. 

Selain bisa membantu sektor pertanian di Indonesia, membeli produk lokal juga berkontribusi dalam mengurangi jejak karbon dari proses pengiriman bahan baku. Kualitas minyak atsiri Indonesia juga tidak kalah dari minyak atsiri dari luar negeri. Mungkin akan ada perbedaan aroma karena kondisi geografis yang berbeda, tapi kami percaya minyak atsiri lokal punya kualitas yang sangat bersaing dengan minyak atsiri dari luar negeri.