Blog Image

Blog

Mitos atau Fakta: Stress Selalu Buruk?

September 7, 2021

 

Stress selalu dimaknakan dengan konotasi negatif. Stress kerja, stress dalam hubungan, dan sebagainya. Bahkan stress terhubung dengan enam penyebab kematian utama di dunia: penyakit, kecelakaan, kanker, penyakit liver, paru-paru, dan bunuh diri. 

 

Stress bisa memunculkan efek fisik seperti migraine, ketegangan otot, hiperventilasi, meningkatkan tekanan darah, mengubah pola makan, bahkan menurunkan daya tahan tubuh dan fungsi sistem reproduksi! 

 

Baca di sini untuk tahu tanda-tanda kalau kamu stress berat. 

 

Kelly McGonigal, psikolog dan dosen di Stanford University menulis di bukunya bahwa respon stress itu sebenarnya sangat subjektif. Kalau kamu merasa stress dengan cuaca panas, mungkin ada orang lain yang justru senang dengan cuaca yang panas. Jadi, setiap orang punya pemaknaan yang berbeda tentang apa yang membuat dia stress. Dan bagaimana seseorang menilai stress juga berbeda-beda loh. Intinya adalah: stress tidak selalu negatif

 

Dalam jumlah tertentu, stress bisa jadi pendorong kita untuk beraktivitas dengan baik dan menghindari kemungkinan bahaya. Selain itu, kalau tidak ada stressor dalam hidup kita, hidup akan terasa membosankan dan kita tidak bisa memiliki pencapaian. Ada stress positif yang bisa disebut eustress. Eustress membantu kita jadi lebih kompetitif dan siap untuk menghadapi kondisi baru. Tapi kalau melebihi waktu atau intensitas tertentu, stress yang tadinya positif bisa berubah menjadi stress negatif atau distress. 

 

Contoh eustress adalah: deg-degan saat menonton film horor, naik roller coaster, kencan pertama. Gejala-gejala yang muncul saat menonton film horor (pernapasan jadi cepat, keringat dingin, jantung deg-degan) sama seperti gejala waktu kita sedang stress. Tapi saat menonton film horror, kita justru merasa senang dengan perasaan-perasaan itu kan? 

 

Prasangka kita tentang stress adalah kuncinya

Kalau kita menganggap stress sebagai suatu “ancaman”, reaksi kita akan berbeda kalau kita menganggap stress sebagai “tantangan”. Ketika persepsi kita tentang stressor adalah ancaman, kita akan lebih fokus untuk memikirkan konsekuensi yang merugikan. Saat kita berpikiran kalau stressor adalah tantangan, kita akan lebih fokus untuk mencari cara menghadapi tantangan tersebut. 

 

Jadi, bagaimana kita memberi makna pada lingkungan di sekitar kita punya peran penting. Di setiap kondisi akan selalu muncul stressor. Pertanyaannya adalah: kita lebih memilih untuk merasa terancam atau tertantang? Ketika sudah memilih, respon yang muncul akan mengikuti (eustress atau distress). 

 

Bagaimana caranya kita bisa melatih eustress?

1. Ubah Perspektif dan Pertahankan Keseimbangan Diri

Kalau kita memikirkan stres sebagai sesuatu yang memiliki manfaat untuk diri kita, stress akan berfungsi begitu juga: mendorong kita untuk lebih baik atau lebih teliti dan berhati-hati dalam melakukan sesuatu.

Tapi hidup tetap memerlukan keseimbangan. Tidak mungkin semua stressor bisa dijadikan sebagai eustress. Jangan terlalu fokus dengan eustress, hal baik yang berlebihan juga akan jadi buruk. Kita harus belajar mendengarkan tubuh dan pikiran kita, dan mengambil waktu untuk beristirahat kalau memang itu yang dibutuhkan tubuh.

 

2. Sadari Batas Diri

Kita harus sadar kita punya keterbatasan yang tidak bisa dipaksakan. Belajar mengatakan tidak untuk tambahan kegiatan atau tanggung jawab kalau itu tidak memberikan makna atau membuat diri lebih kewalahan. Kita juga harus belajar untuk lebih tahan banting, supaya kita bisa meningkatkan ketahanan kita terhadap stress dan tidak menjadikan eustress menjadi distress.

 

3. Melatih Manajemen Stress

Sebagian dari manajemen stress adalah fokus pada kehidupan yang sehat dan seimbang. Hal-hal yang membantu kehidupan yang seimbang adalah: 

  • Memiliki lingkungan sosial yang mendukung: berada di lingkungan yang nyaman bersama orang-orang yang dipercaya, atau kegiatan yang menolong orang lain bisa meningkatkan oxytocin atau hormon kasih sayang. Hormon ini punya peran untuk menenangkan kondisi mental. 

  • Olahraga fisik teratur: berolahraga fisik yang teratur bisa meningkatkan produksi hormon endorphin dan adrenalin yang juga termasuk respon stress. Dengan berolahraga bisa membantu menumbuhkan eustress karena adrenalin yang muncul terasa menyenangkan. 

  • Tidur cukup setiap hari: jadwal istirahat yang optimal berperan untuk kebanyakan kondisi tubuh kita. Saat tidur, hormon kortisol dikeluarkan yang fungsinya untuk menurunkan tingkat stress. 

  • Menjaga asupan nutrisi yang seimbang: mengkonsumsi makanan yang bernutrisi bisa mengurangi efek negatif dari stress. Pastikan kita tidak sembarangan makan saat stress karena kita harus tetap mempertahankan keseimbangan. Bahan makanan yang baik untuk mengurangi gejala stress adalah ikan, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran hijau. 

 

Stress bisa jadi hal yang tidak berbahaya, tapi pemaknaan kita terhadap stress yang bisa mengancam kondisi kita. Tanpa kita sadari, pikiran kita punya kekuatan yang sangat besar untuk kehidupan. Kalau kita menganggap stress sebagai pendorong, maka stress akan jadi pendukung yang baik untuk kita. Dalam kehidupan, ketika dihadapkan dengan kondisi-kondisi yang membuat stress, pilihlah satu kondisi yang paling bermakna untukmu. Percayakan pada diri sendiri untuk bisa berperilaku sebagaimana persepsi kita. Semoga stress yang kamu rasakan saat ini bisa jadi pendorong supaya kamu lebih maju ya, Peek.Me Friends!