Kita Mencintai dan Membenci dalam Bahasa yang Sama

Di antara banyaknya istilah zaman sekarang yang bertebaran di Internet, salah satu yang menarik minat kami adalah love language. Topik ini bahkan sampai kami bahas dalam rapat mingguan kami saking serunya bahasa cinta dan segala implikasinya.

Sebenarnya, istilah love language sudah ada sejak tahun 1992, lho, saat bukunya Gary Chapman The 5 Love Languages terbit. Akhir-akhir ini, terma itu kembali mencuat karena ramainya edukasi psikologi via akun-akun media sosial. Dan tentu saja, kita juga jadi mengamati sendiri bahwa konflik-konflik yang terjadi di dalam hubungan kita sesekali terjadi karena perbedaan bahasa cinta kita dan pasangan.

 

Jadi, sebenarnya apa itu love language?

Singkatnya, bahasa cinta itu adalah cara kita mengekspresikan dan menerima cinta. Ini berhubungan dengan preferensi ya. Sama seperti kita lebih senang memakai Bahasa Inggris dibanding Bahasa Indonesia untuk baca berita, misalnya. 

5 Bahasa Cinta

Menurut Gary Chapman, bahasa cinta itu ada lima. Kita semua memiliki tendensi yang berbeda, dan kita semua punya bahasa-bahasa ini dalam diri kita, tapi selalu ada satu atau dua bahasa yang jadi andalan kita. Istilahnya, kalau dalam ujian bahasa tuh kita fluent dalam bahasa tersebut. 

Aku sendiri membayangkan kita sebagai sebuah diagram lingkaran, dan di dalam lingkaran itu ada proporsi bahasa cinta kita masing-masing. Tentu ada yang paling besar dan paling kecil proporsinya. Dan sifatnya ngga absolut ya, mungkin berubah seiring waktu dan kebutuhan. 

Yuk, kita bahas kelima bahasa cinta tersebut secara singkat!

  1. Words of Affirmation - Kalimat afirmasi maksudnya adalah kata-kata untuk menyatakan sayang dan afeksi. Misalnya, pujian, kalimat penghargaan, dukungan verbal, ungkapan sayang seperti "Aku sayang banget sama kamu", bahkan  via chat atau engagement via media sosial.
  2. Quality Time - Selalu mau jika diajak menghabiskan waktu bersama adalah sebuah bentuk cinta yang pamungkas bagi orang-orang yang punya bahasa cinta ini. Mereka senang sekali jika saat bersama, perhatian kita tidak teralihkan, sepenuhnya hadir bersamanya. Senang jika kita mendengarkan secara aktif dan melakukan kontak mata.
  3. Acts of Services - Artinya melakukan sesuatu yang ekstra atau penuh usaha untuk membantu orang terkasih. Bahasa pelayanan ini kurang lebih seperti jargon "actions speak louder than words". Mereka senang melayani, dan merasa dicintai saat orang tersayangnya melayani juga.
  4. Gift Giving - Orang-orang yang bahasa cintanya adalah hadiah bukan berarti materialistik ya. Bagi mereka, hadiah merupakan simbol kasih sayang, karena ada buah pikiran ekstra yang diberikan untuk memberi hadiah, ada simbol-simbol yang melambangkan sesuatu yang intim, yang penuh muatan emosi.
  5.  Physical Touch - Sentuhan fisik bisa memberikan connection yang sangat kuat bagi mereka dengan bahasa cinta ini. Pegangan tangan, kecupan, bahkan seks memiliki arti yang dalam, seperti sewaktu kita kecil dijaga, dicium dan dipeluk sebagai tanda sayang dari kedua orang tua.

 

Saat mempelajari tentang bahasa cinta, kita pasti jadi merasa-rasa sendiri, mana yang lebih sesuai dengan kita. Tapi terkadang rasanya kita kok semuanya ya? Tentu saja, karena setiap orang memiliki kadar bahasa-bahasa tersebut. Tapi, kalau mau tau bahasa cinta dominanmu yang mana, ikuti aja tesnya. Misalnya di sini.

 

Tapi, ada dua hal lain yang menurutku lebih menarik dibanding sekadar tau bahasa cinta kita apa dan bagaimana kita senang dicintai dan mencintai. Dua hal ini masih sangat jarang dibahas, padahal keduanya adalah implikasi yang lebih dalam lagi dari mengetahui bahasa cinta kita.

Aku bahas yaa sudut pandang lain ini. Mind you, dua hal ini (sesedikit yang aku riset) belum banyak dibahas secara akademis oleh para peneliti dan psikolog. Tapi, ada beberapa artikel personal yang memberikan insight seru tentang pembahasan ini. Apakah itu?

 

Bahasa Cinta Kita sebagai Bahasa Kerapuhan Kita

 Pernah menyadari ngga bahwa kalau kita suka dicintai dengan suatu cara, maka kalau kita tidak dicintai dengan cara tersebut rasanya kurang, uring-uringan, bahkan sampai merasa tidak diinginkan?

Atau bertanya-tanya kenapa ada orang yang suka banget dikasih hadiah padahal menurutmu lebih penting waktu bersama? Dan kenapa ada orang yang merasa sebaliknya?

Jawabannya, karena bahasa cinta kita adalah bahasa kerapuhan kita. Istilah zaman now-nya adalah vulnerability.

Kita tahu ya, mencintai itu artinya memberikan diri kita untuk disakiti. Nah, kurang lebih begitu. Kalau kita terbuka untuk menyayangi seseorang dengan suatu bahasa, maka bahasa itu jugalah yang akan menyakiti kita.

Aku ambil contoh ya. Misalnya, seseorang yang bahasa cinta dominannya words of affirmation. Maka, selain dia juga senang dengan pujian, dia pun akan sangat mudah merasa tersakiti oleh kritikan, cacian, sampai hinaan. Orang yang berbahasa cinta kalimat afirmasi kebanyakan sangat sensitif terhadap intonasi suara yang berubah dari positif ke negatif, sangat peka terhadap kata-kata, dan kalau menerima masukan pedas bisa teringat sampai laaaammmaaa sekali, bahkan sampai merasa ditolak, tidak berharga, dan lain-lain. Sedangkan orang-orang yang bahasa cintanya cenderung bukan kalimat afirmasi, biasanya pun tidak terlalu sensitif dengan sarkasme, sindiran, atau pun intonasi mengejek.

Lalu, orang lain yang bahasa cintanya physical touch cenderung merasa tidak dicintai atau diinginkan kalau sentuhan fisiknya kurang. Bisa saja mereka menghabiskan waktu berdua, melakukan kegiatan bersama, dan dibantu ini-itu, tetapi selama mereka tidak merasakan dipegang, dipuk-puk, dirangkul, rasa cinta tersebut dirasa belum sempurna. Mereka yang cenderung menyukai sentuhan fisik juga bisa merasa sedih kalau kamu ngga dekat-dekat dengan mereka, lho. Kedekatan fisik menjadi hal yang sangat berarti.

Bagaimana untuk yang acts of service? Saat usaha mereka tidak diakui atau diperhatikan, atau justru dipaksa untuk melakukan sesuatu, mereka akan frustrasi. Termasuk jika mereka diperlakukan semena-mena, seperti keset, tanpa simpati dan emosi. Selain itu, mereka juga sangat sensitif jika seseorang menolak untuk melakukan sesuatu bagi mereka.

Bagi orang-orang yang bahasanya cintanya gift giving, ketidakmampuan untuk menyatakan bahwa mereka lebih senang dikasih hadiah dibanding bentuk cinta yang lain pun merupakan suatu hal yang tidak menyenangkan. Hal ini karena ada persepsi yang beredar di masyarakat bahwa menyukai hadiah sama dengan materialistik, padahal bukan begitu maksudnya. Padahal, sesederhana dipetikkan bunga atau dibelikan boba kesukaan pun sudah bisa membuat senang.

Terakhir, quality time. Jika waktu bersama berubah menjadi memori yang tidak menyenangkan karena berantem, suasana yang merusak mood, dan terutama tidak adanya perhatian penuh yang diberikan terhadap waktu bersama tersebut, maka hal itu akan merusak suasana hati. Apalagi, di zaman sekarang banyak sekali orang yang lebih sering terdistraksi hp. Wah, lebih baik singkirkan dulu deh!

Rasanya banyak sekali ya konflik yang bisa ditimbulkan karena perbedaan pengungkapan kasih sayang ini. Tapi, setidaknya dengan mengetahui, kita bisa belajar untuk sedikit lebih memaklumi, dan melancarkan komunikasi ;)

 


Bahasa Cinta Kita sebagai Bahasa Benci Kita

 Nah, yang terakhir, dan paling menarik bagiku, adalah ini.

Bagaimana kita mengekspresikan kasih sayang pun seringnya menjadi bagaimana kita mengekspresikan ketidaksukaan. Alias, bahasa cinta kita adalah senjata kita.

Ini belum ada penjelasan ilmiahnya ya, tapi cinta dan benci itu batasnya memang tipis. Bisa dibilang, benci adalah bentuk destruktif dari cinta. Dan saat kita fluent mengungkapkan kasih sayang dengan suatu cara, kita pun jadi lihai untuk mengungkapkan bentuk perlawanannya. Dan hal ini berlaku bukan hanya dalam hubungan kita dengan pasangan atau keluarga, tapi juga diri sendiri.

Contohnya, bentuk lawan dari acts of service adalah ketidakpedulian, dan kita bisa dengan sengaja menolak untuk melayani demi menyatakan ketidaksukaan kita. Atau dalam contoh ekstrem dan jahat, kita dengan sengaja memanfaatkan seseorang untuk kepentingan kita, karena kita ngga punya respek terhadap orang tersebut. Dalam contoh berantem lucu, saat ngambek kita sering pura-pura ngga dengar jika diminta melakukan sesuatu. Kalau untuk diri, membiarkan diri kita sendiri diperlakukan semena-mena dengan orang lain, meskipun kita menyadarinya bisa jadi merupakan bentuk destruktif tersebut.

Untuk gift giving, selain dengan tidak membelikan sesuatu seperti martabak atau sushi, padahal tahu itu sangat berarti baginya, mungkin dengan cara tidak menghargai apa yang sudah ia berikan. Ini bukan berarti benci, tetapi bisa juga sebagai bentuk penolakan atau ketidakpedulian yaa. Dalam konteks PDKT, hal ini sering dilakukan saat kita dapat sesuatu dari orang yang ngga kita sukai. Bagi diri sendiri, bentuk destruktifnya adalah dengan tidak memberikan diri reward atas kerja keras dan pencapaian.

Bagi orang-orang dengan ekspresi cinta quality time, menolak untuk menghabiskan waktu bersama atau sengaja mendistraksi diri saat quality time bisa jadi bentuk ketidaksukaan. Bentuk destruktif dari spending time together adalah isolation and desertion. Ngga ingin menyapa, jadi menjauh (secara konotasi, bukan fisik) dan dingin. Tidak ingin terkoneksi. Hal ini berlaku dalam hubungan interpersonal dan intrapersonal ya.

Bagaimana dengan physical touch? Kalau seseorang yang menyenangi sentuhan fisik ngga suka dengan sesuatu atau seseorang, ngga harus bentuk ekstrem seperti memukul atau bermain kasar ya (meskipun ya bisa juga sih, meski hanya di dalam kepala aja sebagai bentuk katarsis). Tapi bisa juga dengan menjauh (secara fisik), tak ingin disentuh dan menyentuh. Tapi bentuk destruktifnya adalah dengan merusak barang, membanting, dan lain sebagainya, for the sake of doing something with our hands yang biasanya dipakai untuk menyentuh.

Terakhir, words of affirmation. Tentu saja menyatakan ketidaksetujuan terhadap sesuatu sangat mudah diekspresikan melalui kata-kata, terutama bagi orang-orang yang memang fluent dalam bahasa cinta melalui kata. Dari menyindir halus, sarkasme, sampai cacian. Dan mereka bisa menggunakannya secara efektif dengan kosakata yang kaya. Kalau kamu ngga sensitif terhadap kata-kata, bisa jadi kamu ngga menangkap sindiran tersebut, saking jagonya mereka menggunakan bahasa yang halus, tetapi tentunya memuaskan bagi mereka, hehehe.

Nah, semua ini pun sebenarnya berbekal pengalaman kami saja ya. Sekali lagi, belum ada penelitian akademis atau pun pernyataan resmi dari para ahli mengenai kebenaran dua sudut pandang terakhir. Tapi yang jelas, hal ini tersebut seru dan menarik untuk didiskusikan ;)

Lagipula, mengetahui hal-hal ini punya banyak manfaat lho untuk memperbaiki relasi kita, bukan hanya dengan pasangan, anak, dan keluarga, tetapi juga tetangga dan rekan kerja. Toh, setiap hubungan pun memiliki landasan kasih sayang meski sedikit...

Selain itu, Peek.Me Naturals punya rekomendasi untuk pengekspresian cinta kamu juga, loh! Namanya Love Potion. Spray ini memiliki harum yang khas dan membantu pemakainya untuk merasa relaks dan berbunga-bunga. Cocok digunakan untuk menemani waktu romantis bersama pasangan, dan juga pas digunakan untuk sendirian aja, sambil baca buku, minum kopi, bahkan bekerja. Yang jelas, Love Potion adalah bentuk cinta dari Peek.Me Naturals bagi kamu yang ingin memberi reward untuk diri sendiri maupun hadiah bagi pasangan, teman, atau keluargamu.

Dan rekomendasi ini sangat sesuai untuk semua jenis bahasa cinta. Jadi ngga perlu repot-repot tahu apa bahasa cintamu dan bahasa cinta dia, produk ini pasti akan terpakai!

 

Leave a comment

All comments are moderated before being published

Shop now

WE TAKE CARE OF YOU

Day and Night

Big and Small

Inside and Out