Hati-hati! Mau Self-love Malah Jadi Toxic Positivity

Kalau kamu menghabiskan banyak waktu di media sosial, pasti ngga asing dengan istilah self-love. Menyayangi diri apa adanya, menerima keadaan baik dan buruknya diri kita adalah sebuah konsep yang sangat optimistis dan, pada saat istilah tersebut mulai berkembang, memang diperlukan.

Self-love sendiri adalah penghargaan bagi diri sendiri yang disebabkan oleh tindakan-tindakan yang mendukung perkembangan fisik, psikologis, dan spiritual kita. Artinya, kita menyadari pentingnya kebahagiaan dan kesejahteraan diri kita, dan memedulikan kebutuhan kita. Konsep ini sangat penting, terutama mengingat budaya Indonesia yang seringkali menuntut kita untuk mengorbankan kebutuhan diri sendiri di atas kepentingan orang lain. Istilahnya tuh ngga enakan, gitu.

Selain itu, self-love berkembang jadi ramai setelah influencer berbondong-bondong muncul di internet. Ngga bisa dimungkiri, sebagian besar influencer tersebut memang menunjukkan kehidupan yang sempurna. Wajah dan tubuh ideal, pasangan ideal, keluarga ideal, harta ideal... pokoknya semua yang mereka punya life goals banget deh! Tentu saja fenomena ini membuat orang-orang biasa seperti kita merasa rendah diri, iri, dan terkadang berekspektasi yang ngga berdasarkan kenyataan. Makanya, istilah self-love mulai banyak digaungkan, untuk menarik diri kita dari mimpi yang tak terjangkau tersebut.

Self-love juga berjalan beriringan dengan kampanye body positivity. Beramai-ramai brand menampilkan model yang mendobrak paham bahwa cantik itu harus putih, tinggi, kurus, berambut lurus, bebas noda, tak ada cela. Model-model berbagai macam bentuk tubuh, warna kulit, jenis rambut, bentuk wajah pun semakin diusung. Dari yang kurus banget, sampai gemuk banget, you must love your body no matter what. Because you have to love yourself no matter what.


Sampai akhirnya kita jadi merasa terpaksa untuk mencintai diri kita apa adanya. Let's face it, ada lho hari-hari di mana kita ngga suka-suka amat dengan diri sendiri. Ada waktunya kita merasa kecewa, ngga mampu, merasa terbatas sebagai manusia. Dan setiap kali ingat self-love, rasanya merasa bersalah sekali karena kita merasa demikian. Jadi, kita terus-menerus menyemangati diri, "Ayo, kamu bisa! Kamu pernah melewati badai yang lebih sulit, pasti kamu bisa melalui yang ini. Tuhan ngga akan memberikan cobaan melebihi kesanggupan umat-Nya."

Tapi, rasanya semakin kita menyemangati diri, semakin jauh juga kita dari bersemangat. Rasanya kok masih sedih ya? Masih kecewa ya? Kok aku malah ngga ada tenaga ya untuk melanjutkan hidup seperti biasa?

Nah, waspadalah, Peek.Me Friends. Bisa jadi kamu sudah menyeberang dari dunia self-love ke negeri toxic-positivity.

Kalo gitu, yuk pahami keduanya.

 

Self-Love

Menurut Brain & Behavior Foundationself-love itu ada beragam bentuknya. Setiap orang punya bentuk dan caranya sendiri. Dan mengenali bagaimana kita menyayangi diri sendiri adalah hal penting sebelum memulai self-love.

Beberapa di antara mempraktikkan self-love adalah:

  • Berbicara mengenai dan terhadap diri sendiri dengan kasih sayang
  • Memprioritaskan diri sendiri
  • Sesekali berhenti menghakimi diri sendiri
  • Mempercayai diri sendiri
  • Jujur kepada diri sendiri
  • Baik terhadap diri sendiri
  • Punya batasan sehat untuk diri sendiri dan orang lain
  • Memaafkan diri saat kita ngga terlalu baik terhadap diri sendiri

Dan masih banyak lagi bentuknya.

Tapi, yang paling penting dari self-love itu bukan terlihat baik kepada diri sendiri dan orang lain setiap saat, lho. Jangan karena alasan self-love kita jadi over-spending untuk skincare yang sebetulnya kita ngga mampu beli. Atau healing sampai lupa tanggung jawab. Atau bahkan secara destruktif mengafirmasi diri kita bahwa kita pintar, kuat, dan cantik sampai-sampai segala badai harus bisa kita rintangi. Kalau tipes karena memaksakan diri, itu bukan self-love kan?

Poin penting dari self-love menurut Brain & Behavior Foundation adalah menerima diri sendiri sebagai mana adanya kita. Mau kita lagi glowing, semangat, sukses, atau saat sedang sedih, terpuruk, dan gagal, kita menerima diri kita. Menerima bahwa kita pun boleh kok ngga kuat menghadapi ujian yang Tuhan berikan. Boleh kok sakit karena terlalu banyak kerjaan. Boleh kok jajan ngga sehat sekali-kali. Boleh kok kalo ngga good vibes only. Ngga dosa. Ngga harusnya di-judge.

Self-love adalah memprioritaskan kesejahteraan fisik, emosi, dan mental kita. Makanya, hal paling dasar yang mesti kita punya untuk bisa sungguhan self-love adalah kesadaranBeing mindful itu vital untuk tahu kelebihan dan kekurangan kita, di setiap waktu. Lalu, penting juga bagi kita untuk bertindak sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Harus fokus dan jujur, apa yang kita butuhkan.

Self-love adalah menyayangi diri meskipun tidak sempurna. Bukannya berusaha membuat diri sempurna sampai mengorbankan setiap waktu, tenaga, dan pikiran yang kita punya.

 

Toxic Positivity

Nah, tentu aja self-love berbeda jauh dengan toxic positivity. Meskipun kalau kita tidak mindful menjalankannya, bisa banget terserempet ke jurang ini.

To put it simplytoxic positivity is false cheerfulness.

Saat kita terus-terusan mencari hikmah atau sisi baik suatu keadaan padahal belum siap, itu bisa jadi sebuah bentuk toxic positivity.

Pernahkah kamu merasa sebal sekali kalau kamu sedang curhat, dan temanmu bilang dengan entengnya, "Sabar. Yang kamu alami itu tidak separah orang lain."

Atau, "Kamu pasti bisa kok! Bisa, bisa! Kamu tuh orang terkuat yang aku tahu."

Mengapa? Karena rasanya mereka ngga benar-benar mendengarkan apa yang kamu keluhkan, dan ngga meng-address perasaan kita sesungguhnya.

Memangnya salah kalau ingin menjadi positif? Tidak. Tapi, menurut Wall Street Journal healthy positivity itu harus berakar dari realitas supaya bisa berguna. Kalau jawaban yang biasa kita dengar di percakapan curhat sehari-hari lebih ke template ya....

Maksudnya, sabar, ikhlas dan bersyukur itu harus. Tapi, kalau kamu butuh waktu dan proses untuk bisa sampai tahap itu... ya memang harusnya begitu. Sabar, ikhlas dan bersyukur itu kan skill yang harus dilatih, bukan hal yang otomatis. Jadi, pelan-pelan aja ya!

 

Jadi, gimana kita bisa menghindari forced positivity, dan sungguhan mempraktikkan self-love?

Menjadi tulus dalam pola pikir positif itu penting banget. Hanya dengan begitulah kita bisa membantu orang lain dan terutama diri kita sendiri. Supaya kita ngga terjebak toxic positivity dalam upaya menyayangi diri, kita harus mulai menyadari bahwa optimisme dan harapan berakar ke realitas, sedangkan toxic positivity adalah bentuk penolakan terhadap realitas.

Contohnya,
'Aduh, kerjaanku bulan ini jelek banget. Aku ngga puas deh. Bulan depan, aku akan melakukan (ini-ini-ini) supaya lebih baik. Banyak banget sih, tapi aku coba satu-satu dulu deh biar ngga burnout...'

Terdengar lebih helpful kan, dibanding, 'Bisa, bisaa! Aku pasti bisa. Segini tuh ngga banyak. Orang lain pun kerjaannya banyak banget kok. Ini ngga ada apa-apanya.'

Pada akhirnya, kalau kita ngga berusaha terlalu keras untuk stay positive, hasil yang kita keluarkan akan tetap positif. Sedangkan kalau kita terlalu memaksa untuk positif, bisa-bisa kita berakhir di kamar opname.

Kalo kata Dr. David dari artikel Wall Street Journal di atas, emosi adalah data. Mereka bukan sesuatu yang buruk atau baik. Mereka hanya memberi sinyal, mana hal yang jadi kepedulian kita mana yang bukan. Dan, tugas kita bukan untuk menyelesaikan masalah terus-terusan. Ada kalanya diri kita pun butuh untuk didengarkan... oleh diri kita sendiri. Baru deh kita bisa jadi jagoan.

 

 

Leave a comment

All comments are moderated before being published

Shop now

WE TAKE CARE OF YOU

Day and Night

Big and Small

Inside and Out